HNI_0016

Sore, Tahun 20AS.

Sore yang indah, aku duduk di depan beranda sambil menyaksikan anak-anak yang baru pulang sekolah. Entah kenapa hari ini mereka terlihat lebih ceria dari hari biasanya.

Dengan mataku yang sudah agak kabur kulihat salah seorang dari mereka melambai-lambaikan tangannya kepadaku dan mulutnya terbuka-tertutup seperti meneriakkan sesuatu.

Huh? Ada apa ya? Pikirku dengan bingung. Daripada terus bingung langsung saja aku teriak “Ada apa nak? Kakek tidak dengar”.

Serentak, mereka langsung berlari kearahku sambil berteriak “Kakek, Ayo hidupkan Telkomvision. Film kartun spesial 20 tahun Superspeedy hampir mulai!”.

Haha, pantas saja mereka terlihat lebih ceria dari hari biasanya. Ternyata hari ini adalah hari peringatan 20 tahun sejak Superspeedy berhasil menyelamatkan TelkomCity. Untuk memperingatinya, Telkom Indonesia membuat acara film kartun spesial yang menayangkan perjuangan Superspeedy melawan Alien yang datang ke TelkomCity demi merebut sumber daya energi yang sangat besar.

Setelah Telkomvision kukeluarkan ke beranda, anak-anak langsung duduk manis di depannya dan menyaksikan film kartun Superspeedy.

Mereka terlihat asik menyaksikan aksi Superspeedy. Ketika Superspeedy terdesak, mereka berteriak memberi semangat kepada Superspeedy. Ketika Alien diserang, mereka tidak berhenti melakukan gerakan-gerakan tangan seperti sedang memukuli Alien.

Tayangan film berakhir dengan Superspeedy yang berhasil menyelamatkan TelkomCity dari serangan Alien dan terbang kembali ke  markas rahasianya yang bernama Qbaca.

Seorang anak kemudian bertanya kepadaku, “Kapan ya Kek Superspeedy akan kembali ke TelkomCity?” kemudian anak yang lain berkata “Iya nih, kata Ayahku beberapa tahun setelah Superspeedy pergi ke Qbaca, pasukan Alien kembali menyerang.”
“Ah paling Superspeedy udah nggak peduli lagi dengan kita”.

Mendengar ucapan mereka aku hanya bisa duduk terdiam, sedih.

Akhirnya aku tidak dapat lagi menahan rasa sedih dan tangis ketika seorang anak perempuan berkata “Ayahku mati ketika menyelamatkanku dari serangan Alien. Terus Ibuku sekarang sakit berat karena selalu berkerja untuk membiayai sekolahku dan aku tidak bisa beli obat. Kamu dimana Superspeedy? Kami perlu kamu! Aku perlu kamu…”

“Superspeedy, KEMBALILAH ke TelkomCity!”, teriak anak-anak.

Seketika aku langsung memeluk mereka dan aku tidak bisa berhenti mengucapkan Maaf, maaf, dan maaf.

*BLAM!* Belum selesai airmataku mengalir, tiba-tiba kawanan Alien turun di jalan yang berada tepat di depan rumahku. Dengan sinar laser, mereka menghancurkan rumah, sawah, dan apapun yang ada didepannya.

Anak-anak langsung menangis ketakutan.

Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa?

Aku hanyalah seorang kakek-kakek bermata kabur, agak tuli, dan pincang yang suka beristirahat di beranda. Apa yang bisa aku lakukan?

Ketika aku hanya bisa duduk terdiam diberanda bersama anak-anak, dari kejauhan terdengan ada suara wanita, “Airis! Airis! Dimana kamu? Airis!!”.

“Mama!”, teriak anak perempuan yang duduk disebelahku.

Mendengar suara teriakan anaknya, wanita itu langsung berlari kemari dan salah satu Alien berlari mengengejarnya.
Aku langsung berdiri dan bergegas, pincang, dan berlari ke arah wanita itu. Dengan langkah yang besar, Alien itu menginjak… *KRAK*

“MAMAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”, teriakan keras membelah udara sekitarku.

Superspeedy is BACK!

Kekuatan injakan Alien benar-benar luar biasa. Berat, begitu berat. Tulang-tulang tanganku, otot-otot kakiku, semuanya terasa hampir patah.  Dengan kekuatanku yang sudah tidak seberapa, aku berusaha memegang erat kaki Alien dan menariknya terbang tinggi ke angkasa.

Pada ketinggian 2048 meter, aku langsung melempar Alien itu tepat ke menara Jam yang ada di TelkomCity. Kulakukan hal yang sama dengan empat Alien lainnya sampai mereka semua mati tertancap di menara Jam seperti sate.

Sekarang kekuatanku habis,
Akupun jatuh, jatuh dengan kecepatan tinggi dari ketinggian 2048 meter.

*BLAAAM*

Samar-samar kudengar suara penuh tangis, “Kakek, Kakek! Bangun kakek!”
“Kakek, maaf aku tadi menjelek-jelekkanmu”, “Kakek ternyata Superspeedy!”, teriak yang lain.

Perlahan aku membuka mata dan melihat Airis serta Ibunya duduk dan menangis disebelahku.

“Kita semua selamat, Ibuku juga selamat, terimakasih Kakek Superspeedy!”, ucap Airis.

Kuangkat tangan kananku ke Airis dan kuminta dia untuk menekan tombol rahasia di Gadget “Super Speedy” yang ada di pergelangan tanganku.

*ZING*

Munculah peta hologram yang menampilkan lokasi Qbaca, markas rahasiaku, sumber ilmu, dan tempat dimana berbagai gadget canggih “Telkom Speedy” yang bisa digunakan untuk melawan Alien tersimpan.

Kulepas gadget “Super Speedy” dan kuletakkan di tangan Airis.

Kugunakan nafas terakhirku untuk mengucapkan: “The World in Your Hand”

Tahun 40AS.

20 years After Superspeedy saved us,

Umat manusia masih terus hidup.
TelkomCity masih terus berdiri.

Neo-Superspeedy terus melindungi kota dari serangan Alien.

__________________________________________________

 

Tag: Telkom SpeedySuper Speedy, The World in Your Hand